Catatan Kapten: Asal Mula Kopiten
Ahoy! Kapten di sini, ini Kopiten, selamat datang di kapal.
Sebelum kita berlayar, izinkan saya bercerita bagaimana semua ini bermula. Dimulai dari kenyataan aneh: saya dulu tidak suka kopi. Satu cangkir saja cukup membuat saya terlempar ke laut. Baru setelah saya membawa pulang mesin kopi pertama ke pulau Bali yang indah ini, lebih karena penasaran daripada cinta, arus mulai berbalik. Cangkir demi cangkir, pelayaran demi pelayaran, dua racikan akhirnya terasa pas. Tidak pahit, tidak hambar, pas.
Secangkir demi secangkir.
Itulah yang menjadi racikan signature Kopiten, awal perjalanan yang lebih panjang: memburu biji kopi dari berbagai pantai di Nusantara, masing-masing diseduh dengan tangan. Saya suka bepergian dan berlayar, selalu berburu biji baru untuk koleksi kopi filter saya, ke mana pun perjalanan membawa saya.
Tapi kapal butuh lebih dari kopi enak untuk terus berlayar, jadi saya membangun meja untuk sarapan, makan siang, atau sore panjang berlabuh sambil bekerja yang entah mengapa terasa seperti liburan, dengan menu yang menenangkan tapi tak pernah persis seperti dugaan, lalu berubah menjadi momen yang menyehatkan.
Silakan duduk, buka laptop, tinggal selama ombak mengizinkan, karena di kapal ini saya paling suka saat kerja yang tenang berubah menjadi obrolan dan kedekatan yang baik. Setiap cangkir yang kami tuang adalah undangan untuk berlayar sedikit lebih jauh bersama kami, hari demi hari. Semoga Anda merasa seperti di rumah sendiri.
Angkat jangkar, pelayaran dimulai dari tegukan pertama Anda.
